cooking lively with lely
Rumah besar bercat putih dengan halaman luas itu terlihat lengang. Namun suasan itu akan berubah mulai pekan depan karena saat musim liburan sekolah biasanya tempat di perumahan di belakang stadion Lebak Bulus itu ramai oleh kesibukan anak-anak.
Orang-orang di sekitar kompleks Lebak Lestari Indah mengenal rumah itu sebagai sekolah masak. Namun Lely Simatupang, pemilik sekolah itu, lebih suka menyebutnya sekolah kuliner dan menabalkannya Chezlely.
Lulusan sekolah masak Le Cordon Bleu Perancis ini mendirikan sekolah tersebut pada 2005 dan sejak tahun itu pula ia membuat program Le Petit Chef Short Course yang memberikan kesempatan bagi anak usia 7-12 tahun mengisi liburannya dengan belajar memasak sambil bermain.
“Saya suka anak-anak,” ujar perempuan berusia 45 tahun ini. “Melihat mereka gembira dengan hasil masakan sendiri itu saya senang sekali.”
Seperti tahun-tahun sebelumnya, program liburan ini akan diselenggarakan hari Senin sampai Kamis mulai 16 Juni hingga 10 Juli mendatang. Kelas memasak ini hanya akan dibuka jika pesertanya minimal berjumlah delapan orang dan satu kelas paling banyak hanya akan ada 10 anak. Lely mengharuskan peserta program memakai sepatu dan celana panjang agar memasak lebih aman dan nyaman.
Kursus liburan ini dibuka pukul tiga sore dengan demo masak menu yang akan dipraktekkan hari sembari dijelaskan peraturan yang harus dipatuhi di dalam memasak di dapur. Setelah demo selama 15 menit itu usai, anak akan diajak pindah ke ruang masak. Lely melengkapi ruangan ini dengan peralatan masak dengan standar hotel berbintang.
Di sini anak yang bercelemek dan bertopi koki yang menjulang di atas kepala akan memasak sendiri menu-menu yang biasanya disukai mereka, misalnya pancake, little strawberry tarts, spaghetti pie, dan chicken teriyaki. Dalam satu hari hanya satu menu saja yang dipelajari dengan biaya Rp 250 ribu per kedatangan.
Menurutnya, menu-menu ini setiap tahun berganti dan ia memilih jenis makanan yang pembuatannya relatif mudah. Anak-anak ini tidak diperkenankan memegang pisau sehingga beberapa bahan masakan sudah dipotong-potong terlebih dahulu. Jadi selam dua jam anak hanya mengaduk, mengadon, menimbang, membentuk, dan menumis.
Dalam seluruh proses ini anak akan didampingi dua asisten dan dibimbing seorang koki dengan pengalaman bekerja 10-15 tahun di restoran dan hotel berbintang. Lely sengaja memilih koki seperti ini agar bisa meyakinkan masakan yang dibuat anak tidak gagal.
Ia mencontohkan ada saja anak yang mencampurkan bahan adonan tidak sesuai petunjuk dan koki pengajar harus sigap mengatasinya. “Kasihan kalau jadinya tidak bagus nanti anaknya kecewa dan jadi alergi sama dapur,” ujarnya.
Bagi Lely anak tidak boleh membenci dapur karena seharusnya kemampuan memasak dan kebiasaan di dapur harus dikenalkan kepada anak sejak dini. Selama menjalankan program liburan dan kursus masak anak regular, Lely menemukan banyak anak tidak terbiasa ke dapur dan mengerti perilaku di dapur.
Lewat program liburam lulusan teknik kimia Institut Teknologi Bandung ini berharap anak bisa diajarkan perilaku yang baik di dapur seperti mencuci tangan sebelum memasak atau meminta tolong orang dewasa saat menyalakan kompor.
Selain melatih perkembangan motorik enak, Lely melihat kegiatan masak juga mendorong anak untuk mencicipi bahan masakan yang sebelumnya tak mau ia sentuh. Yang sering ditemui Lely adalah anak yang tidak suka makan sayur akhirnya mau karena dalam proses memasak ia harus mencicipi semua bahan makanan yang tercampur di dalam masakannnya.
Lely menjamin semua proses ini tidak akan dijalani tidak secara serius dan membebani anak. Memasak dilihat Lely menyenangkan bagi anak karena seringkali sangat menikmati menyentuh alat masak dan bahan masakan untuk pertama kali.
Anak juga sering terpesona menyaksikan hasil masakannya karena dari sesuatu yang tidak berbentuk bisa menjadi makanan yang lezat. Lely pernah menerima telepon dari orangtua yang anaknya belajar membuat pizza. “Pizza itu tak boleh dipotong jadi ditaruh di kulkas dan dilihat setiap hari,” ujarnya sambil tertawa geli.
Selain program untuk anak, tahun ini Lely juga membuka Le Jeune Chef, program kurus memasak untuk remaja usia 15-29 tahun. Biayanya memang jauh lebih mahal yakni berkisar Rp 1,2 juta – Rp 3,5 juta.
Lely sendiri berharap nantinya anak-anak akan lebih mengenal dengan apa yang mereka makan. Lebih dari itu ia berharap nantinya anak mampu hidup mandiri karena bisa menyiapkan makanannya sendiri.
Selain kelas memasak anak-anak, Chezlely juga membuka pendidikan memasak dewasa bagi mereka yang serius ingin menekuni profesi di bidang kuliner lewat program Professional Cuisine. Selain itu ada pula kelas kursus memasak Le Cuisinier Regular bagi mereka yang sekedar ingin piawai memasak.
Impian Lely nantinya lebih banyak anak Indonesia yang menekuni profesi chef dan memanfaatkan peluang sedikitnya koki professional di kawasan Asia Pasifik.”Paling tidak lima tahun ke depan saya masuk restoran bisa makan gratis karena ada murid saya di sana,” ujarnya.
[8zonewsroom]
[...] Sekolah Masak Chezlely [...]
Dewa Dapur Indonesia « the 8th dimension
June 9, 2008
bgmn cara pendaftarannya?ada kls utk liburan ini gx soalnya anak sy yg berumur 7 thn ingin sekali kursus masak.
elyas kustiawan
December 19, 2011
info soal pendaftaran silahkan ke situsnya langsung: http://www.chezlely.com/
8zone
December 19, 2011
alamat chezlely dimana?bgmn cara mendaftar?apakah utk liburan kali ini ada kelas utk anak 7thn?
elyas kustiawan
December 20, 2011