Mencari Naruto di Kota Ninja (bagi mereka yang gemar ninja dan punya uang sangat berlebih)
“NARUTO!”
Kemungkinan besar ini jawaban anak-anak sekarang kalau ditanya soal ninja. Naruto memang jadi referensi soal ninja yang paling gampang diacu karena hampir setiap hari bisa disaksikan di televisi, pernak-perniknya bertebaran di mal, bahkan di motor butut pun ada stikernya.
Mereka yang lahir lebih dulu rujukannya pasti beda dan heran melihat ninja Naruto yang pake baju warna-warni dan kelihatan mukanya. Kenapa? Karena Michael Dudikoff.
Si Dudikoff ini menjadi ikon ninja dalam film bersekuel American Ninja. Memakai baju serba tertutup dan yang terbuka cuma daerah persegi panjang mencakup sepasang mata dan pangkal hidung yang membedakan dia ninja pesek Asia atau ninja bule mancung seperti Dudikoff.
Nah biar jelas ninja itu penampilannya seperti apa, apalagi kalau Anda penggemar ninja dan punya uang sangat berlebih, berkunjunglah ke Kota Ninja, Iga Ueno, di provinsi Mie. Di Jepang tentunya ya.
Iga Ueno ini dipercaya sebagai kota kelahiran ninjutsu aliran Iga Ninja (Ada juga Koga Ninja di Provinsi Shiga. Ninja sendiri terinspirasi dari kitab seni perang Sun Tzu.
Keahlian utama dari ninja Iga ini adalah menyembunyikan diri ini. Hue hue hue, melempar bom asap ke tanah lalu menghilang.
Dalam salah satu film Hollywood, setelah melempar bom asap si ninja menghilang dengan cara masuk ke dalam tanah. Tapi ini masih kalah dengan jagoan di Sumatera dan Kalimantan yang enggak perlu lempar bom untuk bikin asap, karena asapnya otomatis mengepul tebal dan menyebar membutakan pandangan akibat kebakaran hutan yang huebat.
Anyway, Iga Ueno ini bisa dicapai dengan perjalanan dua jam dengan kereta jalur Iga Tetsuda dari Osaka.
Setiap bulan April kota ini menyelenggarakan festival ninja. (Yang kalau sesuai dengan konsep ninja, maka festival ini seharusnya sangat sepi karena semua pengunjungnya menyembunyikan diri. So what’s the point of having a festive?)
Di luar bulan itu keramaian mungkin tidak ada tapi ada museum rumah ninja (yang lagi-lagi seharusnya sulit banget dicari) yang buka sepanjang tahun. Rumah ninja ini penuh dengan pintu rahasia dan lorong-lorong tersembunyi. Pengunjung akan dipandu oleh Kunoichi atau ninja perempuan dengan kostum berwarna, ehem, pink.
Selain informasi soal sejarah ninja, museum ini juga menjadi tempat artefak ninja terbesar di dunia. Ada juga pementasan ilmu ninja, menjajal melempar shuriken (atau “piau” kalau kata orang zaman 80′an), dan tentunya ada toko suvenir yang menjual bagian tubuh korban pembunuhan para ninja.
Bagi penggemar ninja yang punya uang sangat berlebih tapi tidak mau pergi ke Jepang meski sangat menyukai ninja dan punya uang berlebih, maka gunakan saja uang yang sangat berlebih itu untuk mempercanggih komputer Anda demi menyalurkan kegemaran terhadap ninja. Komputer canggih yang dibeli dengan uang sangat berlebih itu cukup kuat untuk mengakses dunia virtual Second Life yang memang perlu uang sangat berlebih untuk akses internetnya.
Di Second Life ini pemilik museum ninja membuat kota ninja virtual seperti di Iga Ueno sehingga Anda, yang penggemar ninja dan punya uang sangat berlebih tapi tidak mau pergi ke Jepang meski sangat menyukai ninja dan punya uang berlebih, bisa berwisata di kota ninja.
Untuk Anda yang tidak punya uang berlebih dan biasa-biasa saja soal ninja, tapi pengen lihat ninja, ya … nontonlah Naruto.
foto: Aidan Doyle, Kansai Scene magz

wah benar sekali lo..kebetulan kami berada di kota ninja, iga-ueno jepang.
pmiij
October 20, 2008
wah berarti sampeyan, halah sampeyan kayak ndoro kakung yang pcas ndahe aja, ehem ehem, berarti PMIIJ (whatever that stands for) punya uang yang sangat berlebih dong atau paling nggak punya keberuntungan yang sangat berlebih hehehehe
8zone
October 20, 2008