Menghijaukan Cempaka Putih
Gapura berwarna hitam menyambut mereka yang akan masuk ke jalan Lumba-lumba di di Kelurahan Cempaka Baru, Jakarta Pusat. Melewati gapura itu serasa melintas ke dunia lain karena tiba-tiba saja sejauh mata memandang yang kelihatan adalah daun-daun hijau dari pot-pot tanaman tepi jalan dan pekarangan rumah.
Nyaris tidak ada rumah yang tidak menaruh pot tanaman di muka rumah. Di sela-sela pot tanaman itu ada tong plastik yang di bagian bawahnya terdapat keran kecil seperti yang biasa dijumpai pada dispenser air mineral.
Kawasan hijau itu diprakarsai oleh Sukamto Hadisuwito yang selama tiga tahun terakhir menjadi Ketua RT 14. Warga yang ditanya Tempo letak rumah pria berusia 57 tahun asal Klaten itu segera menunjukkan sebuah rumah berlantai dua yang dicat biru muda dengan pekarangan penuh tanaman di sampingnya. Sebuah vespa biru tua terparkir di teras rumah.
Udara di rumah Sukamto terasa sejuk. Tapi suami Suyami itu mengisahkan dulu nyaris tak ada udara segar mampir ke rumahnya. “Yang ada itu malah sampah beterbangan ke pekarangan ditambah bau dan lalat,” ujar Sukamto.
Sampah itu berasal dari tanah kosong di seberang rumah yang luasnya hampir 700 meter persegi yang kini penuh dengan sayuran organik dan tanaman obat. Sukamto mengisahkan dulu tanah kosong itu tak ubahnya Bantar Gebang mini yang penuh sampah dapur hingga perabotan rusak. Sukamto berkali-kali mengeluhkan soal sampah itu kepada pengurus RT tapi kunjung ada perubahan.
Suatu ketika pada 2004 warga memintanya menjadi Ketua RT. Sukamto buru-buru mematok syarat. Ia hanya menerima jabatan itu kalau warga mau membenahi masalah sampah di lingkungan mereka.
Syarat itu diajukan karena ia gerah dengan persoalan sampah di lingkungan rumahnya dan bertekad mencari cara untuk mencarikan solusinya. Namun sejatinya Sukamto bukanlah aktivis lingkungan namun wiraswastawan yang mengaku ikut merintis bisnis karaoke pertama di Jakarta dan berada di balik penciptaan kotak plastik bening yang sekarang lebih banyak dipakai menjual nasi kuning atau nasi uduk. Ia pernah menjalankan perusahaan film animasi yang diputar di televisi Jepang dan terakhir pria yang fasih berbahasa Jepang ini mengeskpor pupuk dari kotoran cacing.
Sukamto pernah disponsori organisasi nirlaba Jepang OISCA (Organization for Industrial Spiritual and Cultural Advancement) untuk belajar pertanian dan pembuatan pupuk di Kakamatasu, Shikoku, Jepang. Pengetahuan pelatihan selama dua tahun itulah yang dipakai Sukamto untuk menyelesaikan masalah dengan menyulap sampah dapur dan sampah organik lainnya menjadi pupuk kompos.
Ayah dari tiga anak ini sadar betul tidak mudah mengajak warga mengurusi sampah apalagi kalau harus menyisihkan uang yang bisa menganggu urusan dapur. Ia tak kehilangan akal. Begitu mendengar ada lomba Jakarta Green and Clean, Sukamto langsung mendaftarkan RT yang dipimpinnya.
Uang insentif dari panitia lomba senilai Rp 2 juta dipakainya untuk membangun sebuah komposter yakni bak besar dari semen dan batu-bata yang disekat menjadi tiga kotak satu kali satu meter yang diberi saluran pembuangan air sekitar tiga puluh sentimeter dari dasar bak. Semua sampah organik seperti sampah dapur dan dedaunan disemprot dengan cairan mikroba lalu dimasukkan ke dalam bak. Sukamto menjelaskan, mikroba itu akan membantu menghilangkan bau busuk dan membusukkan sampah menjadi cairan lindi yang jika dicampur air bisa menjadi pupuk kompos cair.
Hasilnya, tak ada lagi sampah yang menumpuk bahkan kompos cair bisa dipakai warga untuk merawat 300 pohon bantuan dari Kelurahan Cempaka Baru. Sukamto berujar, warga kini hanya perlu mengurusi sampah anorganik seperti kertas dan plastik yang menurut teorinya memang hanya 25 persen dari sampah rumahan.

Sukamto memamerkan peralatan komposter cair di depan proyek bak komposter cair di Cempaka Putih. (copyright foto: 8zone.wordpress.com)
Namun Sukamto belum puas karena pembuatan bak beton itu memakan biaya besar dan beberapa rumah warga terlalu jauh jaraknya dari bak komposter. Sukamto kembali memutar otak untuk menemukan cara agar warga bisa mengolah sampah di pekarangan rumahnya.
Akhirnya Sukamto dibantu oleh istri dan anak bungsunya Zulaikhah Putri Lestari membuat komposter kecil dari tong plastik. Dibawanya satu komposter, alat semprot, dan cairan mikroba itu ke Lurah Cempaka Baru yang diharapnya bisa membantu setiap warganya bisa memiliki komposter itu.
Diluar dugaan menyambut baik idenya itu.pihak kelurahan langsung memesan 250 set komposter untuk dibagikan kepada ketua RT, ketua RW, anggota Dewan Kelurahan, dan pemuka masyarakat. Sukamto pun didapuk mengajari mereka cara pemakaian alat-alat itu.
Memang saat ini usahanya mulai membuahkan hasil. Tapi di masa-masa awal Sukamto mengaku ajakan mengurusi sampah tidak begitu saja diterima semua warga yang sudah terbiasa membuang sampah tanpa memilah sampah organik dan anorganik.
Namun Sukamto yakin idenya akan berhasil. “Seorang pemimpin yang buat perubahan harus menjadi teladan jadi saya jalankan saja dulu sendiri di rumah,” Sukamto yang mengaku mendapat dukungan penuh dari keluarganya..
Meski sempat heran dengan cara Sukamto warga berubah semangat karena RT mereka terus mengikuti perlombaan dan merebut berbagai juara mulai tingkat Keluarahan sampai tingkat provinsi. Salah seorang warga bernama Sumarsono mengaku diuntungkan dengan pengolahan sampah dapur menjadi kompos cair.
Dulu Sumarsono dan tetangganya pusing soal sampah karena karena pengangkut sampah keliling hanya datang dua hari sekali sementara truk sampah paling banyak hanya mampir tiga kali dalam semingu.
“Sampah jadi menumpuk dan bau,” ujarnya. Sekarang, kata dia, pengangkut sampah hanya datang sekali dalam seminggu pun tidak masalah karena tak ada lagi sampah menggunung dan bau.
Tapi tak semua warga berpikir seperti itu karena menurut Sukamto hingga kini masih ada warga yang tak mau mengikuti idenya. Mereka, kata dia, menuduhnya pembual karena sampah dalam komposter tetap bau dan muncul belatung. “Banyak dari mereka yang sudah tak mau walau belum mencoba ada juga yang mencoba tapi tidak mau mengikuti petunjuk, ya (akhirnya) tidak berhasil,” ujarnya,
Namun Sukamto tidak mau mundur meski masalah seperti itu apalagi setelah mendengar kabar di RW 06 Kelurahan Cempaka Baru. Sukamto mengatakan, 70 persen warga RW itu memakai komposternya dan ketika ketika dihitung sampah yang tadinya empat truk seminggu sekarangtinggal satu truk saja.
Kini setelah mengakhiri masa jabatannya sebagai Ketua RT, Sukamto mengaku ia bersama keluarga dan warganya sudah membuat hampir seribu komposter yang dibagikan di kelurahan Cempaka Baru dan kelurahan lain di sekitarnya. Bahkan sejak diberitakan media massa banyak orang datang dan memesan komposter Sukamto yang mengaku sudah mengirimkan komposter dalam jumlah cukup besar ke Medan, Menado, Atambua, dan beberapa tempat di Kalimantan.
Komposter pun mendatangkan rezeki bagi keluarga Sukamto. Warga sekitar juga ikut merasakan karena Sukamto menyertakan tetangga jika ada pesanan komposter dalam jumlah besar.
Sukamto menghargai komposternya dengan kisaran harga Rp 120 ribu – Rp 260 ribu per set tergantung ukuran tong komposter. Harga yang menurut Sukamto murah karena alat-alat bisa bertahan hingga tahunan sementara cairan mikroba seharga Rp 20 ribu per botol cukup untuk pemakaian selama enam bulan.
Sukamto mengatakan ke depan ia akan banyak disibukkan membagi pengalaman menangani sampah dan mengajar cara pemakaian komposter di banyak tempat. Dalam waktu dekat ia akan disponsori Departemen Kelautan dan Perikanan untuk membawa komposternya ke desa nelayan di Jawa Tengah.
Di tengah kesibukan dan tamu yang kerap bertandang ke rumahnya, Sukamto masih menyimpan impian. Ia berharap warga di tempat lain dan semua tempat yang menghasilkan sampah organik dalam jumlah besar seperti hotel dan restoran mau mulai mengurusi sampahnya. “Kalau semua orang mau mengurusi sampah dapurnya kita tidak perlu pusing lagi soal sampah,” ujarnya.
Disclaimer Note: Izin dulu ya sebelum mengutip tulisan yang dibuat dengan susah payah ini. Thx
Bravo untuk pak Sukamto! Saya juga sedang belajar utk memilah sampah. Berikutnya sepertinya saya perlu belajar dari Pak Sukamto utk mengolah sampah organik sampai bisa menjadi pupuk…Jadi … tunggu kedatangan saya dan teman-teman ya pak? Thank U…
Jathie
January 3, 2008
[...] BACA JUGA:Profil Pak Kamto [...]
Kontak Pak Kamto « the 8th dimension
February 21, 2008
Kok gak ada gambar komposternya ? apakah sama dengan kpmposter buatan Bandung yang seperti saya beli tahun 2005 lalu sudah ada atau ada hal baru ?
A. Zaenuddin
A. Zaenuddin
February 25, 2008
wah saya tidak memotret secara detil gambar komposternya. sulit juga untuk memastikan apa yang pak zaenuddin beli di bandung sama atau tidak dengan punya pak kamto
tapi setahu saya komposter cair ini asli buatan pak kamto meski memang bisa ditiru dengan mudah oleh orang lain. untuk lebih jelasnya bisa dikontak langsung aja ke pak kamto ato baca di bukunya beliau soal kompos cair
8zone
February 26, 2008
wah, salut buat bapak. bisa belajar banyak nih.
aku juga pengin menjadikan pengolahan sampah dapur sebagai salah satu program KKNku Juli-Agustus mendatang.
apa saja yang mesti dipersiapkan? hm, buku karang Pak Kamto apa judulnya?
barangkali tersedia di Jogja. kalo nanti proposalku diterima, boleh konsultasi ya Pak?
salam,
Rissa-Jogja
Rissa. UGM
March 6, 2008
Mbak Rissa UGM,
kalau mau konsultasi Pak Kamto, langsung saja buka link ini:
http://8zone.wordpress.com/2008/02/21/kontak-pak-kamto/
di dalamnya ada alamat email dan nomor telepon untuk menghubungi Pak Kamto. (Sekedar informasi, ini bukan situsnya Pak Kamto, saya cuma menulis profilnya saja)
8zone
March 6, 2008
enggak, lah..!!
kalo cuman tulisan sih gak usah terlalu dipuja puji..!
kenyataannya tidak seperti yg dijanjikan..!
teori 99% jadi cair tidak terbukti, lebih banyak padatan dari cairan yg dihasilkan..
katanya 1 minggu jadi, sudah 3 bulan baru jadi sedikit..!
janjinya tidak berbau, ternyata tetap aja menyengat..!!
kompos padat tetap yang terbaik..!!
bonny
June 7, 2008
hmmm… mr/mrs bonny, Pak Kamto pernah bilang ke saya kalau instruksi pembuatan kompos cair harus diikuti benar kalau tidak pasti gagal dan sampahnya berbau busuk. Salah satu yang penting, kata dia, sebelum dimasukkan ke tong sampah harus disemprot merata kalau tidak pasti gagal. Kira-kira begitu.
Buat saya sih bukan persoalan padat atau cair, tapi menangani sampah itulah yang penting.
8zone
June 9, 2008
Setuju!!!
saya baru +/- 3 bulan lalu mempraktekkan pembuatan kompos cair ini. nyatanya berhasil dengan baik. setelah 2 mg sudah terbentuk lindi dalam tong, tapi memang belum mengalir keluar kran. Saya sengaja tunggu 1 minggu lagi, saya langsung panen cairan lindi warna coklat, kental, bau khas hasil fermentasi. berhasil panen lindi pertama membuat saya ketagihan mengolah sampah organik. sekarang saya baru belajar membuat kompos padat. justru membuat kompos padat ini yang lebih menyita perhatian karena sepertinya koq kurang berhasil,hahaha…
buat saya kompos cair atau padat punya kelebihan masing2.
kompos cair praktis karena kita tidak perlu bongkar2 tanaman dalam pot…tinggal siram saja. saya malah masih punya persedian lindi di gudang. sekarang baru mencari info bagaimana menyimpan lindi dengan baik. ada yang bisa membantu?
kompos padat juga perlu untuk media tanam saat pertama kali menanam tanaman.
ririn
September 18, 2008
saya tertarik untuk membeli komposter tapi bisa tidak dikirim ke alamat pembeli? atau ada no. hp bp Kamto? tks
haikal
October 20, 2008
Pak Haikal, seingat saya komposter pak Kamto bisa diantarkan ke pembelinya, tentunya ada tambahan biaya pengiriman. Untuk mengontak Pak Kamto di akhir postingan ini ada link “KONTAK PAK KAMTO” yang berisi alamat dan nomor telepon Pak Kamto. Silahken dicoba.
8zone
October 22, 2008
Terimakasih banyak untuk si penulis blog ini,boleh saya tau namanya siapa?
saya salah satu putrinya Bpk.Sukamto
seneng bgt liat blog ini dan baca comment dari masyarakat luas tentang Ayah saya..
untuk yg sudah berhasil menggunakannya dan berhasil mengurangi volume sampah mulai dari skala rumah tangganya masing-masing saya ucapkan terimakasih dan selamat. semoga akan banyak orang lagi yg mau peduli akan sampah dan lingkungan..
untuk yg belum berhasil bisa hubungi kami langsung penulis sudah memberi tahu bagaimana cara menghubungi kami..
kami akan bantu mencari solsinya..
kami bukan NATO (Not Action Talk Only),,
tetapi kami ikhlas membantu siapa saja yang memang peduli akan lingkungan.
Thx before..
putri
November 22, 2008
Hi Putri,
Terima kasih sudha mengunjungi blog ini. Saya seneng nih, tulisan saya soal pak kamto dibaca oleh anak-anaknya baik yang berada di mancanegara maupun yang di domestik (halah kayak wisatawan aja).
Saya menulis artikel ini untuk lingkungan hidup Indonesia yang lebih baik dan itu lebih penting ketimbang nama saya lho… tapi kalau benar ini putrinya pak Kamto berarti dirimu sudah pernah bertemu dengan saya, coba mengingat saja siapa yang mampir ke rumah pak Kamto lumayan lama sampe “nyuruh” pak kamto nganter keliling RT dan ke kebun sayur yang dipupuk pake kompos cair.
Soal tanggapan negatif di kolom komentar, saya rasa fair saja untuk dimasukkan karena ada juga orang-orang yang tak berhasil memakainya. Tapi seperti saya bilang di komen sebelumnya, mereka yang berhasil bisa konsultasi langsung sama Pak kamto, silahken klik di link KONTAK PAK KAMTO di bagian akhir artikel di atas.
CIAOW
8zone
December 3, 2008
terima kasih,
pak sukamto, berkat bapak lingkungan saya terlihat bersih sekali, salam dari serdang.
pengendara
December 14, 2008
Alhamdulillah sampah di indonesia jadi berkurang…terimakasih yaa pa kamto.. saya juga insya Allah akan beli komposternya di bandung dan mudah mudaha bandung tidak menjadi lautan sampah lagi..
saya akan pasarkan ke seluruh warga bandung.. aminnn
deny
April 13, 2009
saya Alan Hakim seorang pns yg tak lama lagi memasuki masa pensiun, saya tertarik dengan pengolahan sampah, saya tinggal di cibubur, mohon info, dimana tempat terdekat dari tempat saya tinggal yang menjual alat pengolah sampah (komposter?) pak kamto itu?
terimakasih …
Alan Hakim
March 4, 2010
Di mana saya mendapatkan bioaktivator boiscanya ya ?
bambang
March 17, 2010
Saya tertarik untuk mengembangkan program kota hijau di kota saya. Bagaimana cara memulai bisnis nya. Saya lihat banyak sekali orang ygbisa membuat alat ini, apakah ada cara lain, selain dari komposter yg mudah di tiru orang lain??
Ujang Kudri
July 21, 2010
sebelumnya salam kenal pak kamto, saya bintang dari Bali ingin sekali mempraktekkannya. Kira2 bisa tidak komposternya dikirim ke Bali dan juga Boiscanya, kami kesulitan mencari decomposer yang sama persis. Mohon komennya yang cepat ya…ke alamat email saya bintang_madrini@yahoo.com, lengkap dengan harga dan ongkos kirimnya.
bintang
August 22, 2010
salam kenal pak kamto, saya bintang dari Bali, saya ingin mempraktekkannya langsung. Bisa tidak komposternya dikirim ke Bali lengkap dengan cairan mikrobanya(Boisca). saya tunggu khabar secepatnya.
bintang
August 22, 2010
selamat siang…Saya sangat tertarik untuk membuat komposter, tp saya kesulitan untuk membeli bioactivator BOISCA…saya tinggal di Jambi
Mohon info tempat membeli BOISCA secara online..Mohon di PM aja Indriagandi.99@gmail.com
Makasih
Gandi
December 26, 2010